Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Semua info yang kamu cari ada di sini

Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2010

Tips jitu menaklukan cewek

Senang nya para cowok yang bisa menaklukan cewek yang di taksir nya, gue punya beberapa tips nih, buat loe para cowok yang pengen naklukin cewek yang loe sukain. kalo waktu itu gue udah pernah nulis artikel tips menaklukan hati cowok, sekarang gantian ya, naklukin yang cewek nya. biar adil di dunia ini. (lebay banget dah, hehe..).
oke, langsung aja di perhatiin tips di bawah yah..



*Jujur.
Tunjukan bahwa loe adalah pria yang jujur,sopan, sekaligus charming. jika ia ingin sharing,curhat, sekedar ngobrol, tunjukkan kalo loe sangat antisius dalam mendengarkan ceritanya dia.

*Jangan banyak menilai.
No body perfect. Hal ini lah yang kerap di lupakan para cowok. usahakan jangan membandingkan cewek, dengan cewek yang lainnya, nanti dia malah kesal sama loe lagi.

*Jangan mengikat.
Beri dia ruang gerak, maksudnya jangan berkeliaran si sekitar dia. Biarkan si dia menebak di mana lo berada. asal tau aja, ketidak hadiran loe itu justru membuat penasaran dan kerinduan. (kalo sebaliknya, ya DL,, hehe... )

*Humor.
Survei membuktikan 9 dari 10 cewek menyukai cowok yang humoris, jadi tunjukanlah humor-humor kepada dia, tapi jangan terlalu sering juga yah.

*Tampil menarik.
Tidak perlu penampilan berlebihan. hanya cukup bersih,harum,nafas segar, dan tidak berantakan aja. pasti cewek juga bakal tertarik sama loe.

*Perhatian.
inilah yang paling penting. loe mesti perhatian kepada dia, buktiin kalo loe peduli sama dia. sering-sering aja sms/telpon dia walaupun hanya ingin sekedar nanya lagi ngapain.

huuwwaaahhh,,, gimana tips nya?? silahkan dipraktekan dulu aja kalo loe mau dapetin cewek idaman loe itu.
jangan pernah patah semangat yah buat dapetin cewek idaman loe..!!!!

Menghadapi Guru (Rapat Jum’at)

Salah seorang rekan kerja saya, sebelum mengajar di SD ini adalah seorang guru SMK. Suatu kali dia berkisah tentang sebab dia ‘cabut’ dari sekolah sebelumnya. Dia bertengkar hebat dengan salah seorang rekan kerjanya.

Sobat saya itu kesal dengan rekan kerjanya yang menurut dia keterlaluan. Atas nama disiplin, dia menjemur anak-anak selama berjam-jam di lapangan panas-panas, atau mempush up puluhan kali. Anak-anak yang nilainya jelek, dipaksa ikut jam belajar tambahan yang baru berakhir lewat jam 9 malam. Kontan sobat saya ini meradang. Dari mulai keluhan-keluhan sopan, protes, sampai akhirnya bertengkarlah dua guru ini saling berteriak satu sama lain. Dan karena sobat saya adalah guru baru, kepsek jelas lebih memenangkan yang telah lama mengajar. Sobat saya gak tahan, dia lalu mengundurkan diri.

Lalu, sampailah dia ke sekolah ini.

Saya sering diam-diam membayangkan bagaimana rekan saya yang terkenal guru paling lembut disini itu berkelahi dengan rekan kerjanya yang dulu. Ngng.. Gak kebayang ah! Namun saya mengkhayalkannya jadi heroik sekali. Seperti itulah guru yang membela anak-anaknya. Yah, walaupun dia musti kalah.

Menghadapi rekan kerja sendiri itu memang menyebalkan sekali. Bagaimana caranya kita memberitahu atau memprotes tindakan tidak terpuji rekan tanpa merasa tidak enak? Yah, tentu itu bergantung pribadi orang yang bersangkutan. Saya sungguh senang bahwa sebagian besar rekan kerja saya adalah orang-orang yang terbuka. Kami bisa saling mengkritik satu sama lain dengan tanpa merasa jengah.

Tapi tentu tidak semua.

Tahun pertama itu, saya adalah walikelas dua. Tapi saya juga mengajar di kelas 1 dan 3 pelajaran IPS sebanyak dua jam pelajaran satu minggunya. Nah, setiap kali saya masuk kelas 3, saya selalu diserbu curhat. Curhat-curhat panjang kelas 3 yang semuanya adalah mengenai walikelas mereka sendiri. Beberapa saat saya mulai sadar bahwa kelas 3 sebal dengan walikelasnya. Saking sebalnya, berkali-kali mereka bilang bahwa mereka membencinya. Apakah guru kelas 3 galak? Gak juga.

Dari curhat-curhat panjang mereka yang kebanyakan berputar-putar dan melelahkan, saya bisa mengambil benang merahnya. Anak-anak angkatan pertama ini sebenarnya adalah anak-anak yang manis dan patuh. Terbukti toh selama saya menjadi walikelas mereka tahun ajaran 2008-2009 kemarin, hampir tidak pernah menerima laporan apapun tentang kenakalan mereka. Padahal kelas 5 itukan masa-masa pemberontakan dimulai. Mereka sesungguhnya mau kok, diberi peraturan seketat apapun. Hanya mereka adalah anak-anak yang terbiasa diperlakukan secara demokratis. Yah, kalau melihat gaya-gayanya Bu Kirsan dan Bu Eni, dua walikelas terdahulu mereka. Jadi, mereka sungguh tidak senang ketika harus bertemu dengan walikelas yang pertama-tama masuk langsung ngasih segambreng peraturan yang sudah jadi. Gak papa mereka diberi peraturan banyak, dan mereka akan mematuhinya tanpa protes. Tapi, mereka mengharap untuk diajak berdiskusi dulu mengenai itu. Paling tidak, kalau mereka tidak boleh melakukan sesuatu, mereka tau alasannya kenapa.

Guru: Peraturan pertama, tidak boleh datang terlambat.

Murid: Kenapa kita gak boleh terlambat?

Guru: Karena ibu mau kalian belajar untuk disiplin. Belajar untuk menghargai dan tepat waktu. Juga belajar untuk hidup lebih terstruktur.

Murid: Okey…

Nah, begitu aja kan gampang. Cuma butuh waktu beberapa menit, bukan? Dan bukan…

Guru: Peraturan! Masuk pukul 7 pagi. Dua, siswa wajib memakai seragam sekolah. Tiga, ble..bla..bla…

Murid: (Bengong) (Dalam hati: jkfushzhxfhdfhshjhdahda!!!!!!!)

Karena dari awalnya anak-anak sudah tidak senang, akhirnya apapun yang sang guru lakukan jadi selalu menyebalkan dimata anak-anak. Kayaknya segala-galanya salah. Mereka jadi tukang ngelawan. Nasihat walikelas seakan-akan angin lalu saja. Dan saya kesal sekali setiap kali Pak Kelas 3 mengeluh tentang ketidak patuhan anak-anaknya. Kok mbok ya gak sadar-sadar bahwa anak-anaknya ini Cuma tidak patuh kepada dia doang. Kepada guru yang lain, mereka adalah anak-anak manis yang bukan hanya nurut, tapi juga sayang kepada guru. Maksud saya, itu kan seharusnya menyadarkan guru dong bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya. Jangan terus-terusan nyalahin anak-anak.

Tapi, ya.. Saya pun tidak melakukan apapun mengenai masalah itu. Alasan saya, banyak. Sibuk dengan kelas sendiri, lah! Gak enak sama senior, lah! Gak PD menegur guru yang bener-bener guru sementara saya siapa sih? Bukan lulusan kependidikan, gak punya akta 4 dan bahkan gak pernah punya pengalaman mengajar di manapun kok bisa-bisanya memberi tahu seorang sarjana kependidikan. Sok tau banget!

Saya diam. Mencoba untuk menanggapi setiap curhat kelas 3 dengan meminta mereka untuk lebih terbuka dan sabar.

Ibu yakin kok, Pak Kelas 3 itu orang yang baik. Dan guru yang hebat loh. Gimana kalau kalian ngajak ngobrol baik-baik Pak Guru..

‘Huh! Baik apaan. Tau gak….bla..bla..bla..’ Seno.

Akhirnya, klimaks dari frustasi anak-anak ini meletus dalam jalan yang salah. Pada suatu hari, selepas jam sekolah, Pak Kelas 3 menemukan bahwa seluruh papan tulis penuh dengan tulisan. Tulisan-tulisan ini bukan tulisan biasa anak-anak yang biasanya gambar-gambar mobil dan pesawat terbang atau tulisan iseng ‘anu love anu’, tapi merupakan wujud kemarahan mereka:

Pak Kelas 3 mulutnya bau kentut!

Pak Kelas 3 suka makan jengkol dan suka mandi di comberan!!

Pak Kelas 3 tukang kentut dan tukang cepirit!!

Meghadapi hal seperti itu, seseorang sebaiknya instropeksi diri. Tulisan itu tentu bukan sebenarnya, tapi juga tidak bisa dikatakan penghinaan. Lah, yang nulis kan Cuma anak-anak. Bocah-bocah yang baru berusia 8-9 tahun. Jelas sekali itu semua mengisyaratkan kekecewaan, dan bukan serangan. Yah, menurut saya sih seperti itu. Tidak usah diambil hati. Perbaiki diri kita saja.

Sebagai guru, menurut saya kita gak perlu permisif. Hanya karena ingin disukai, maka jadi mengikuti semua keinginan anak-anak. Kita harus tegas juga. Kalau perlu, galak pun tidak mengapa asal memang saatnya tepat. Dan gak pernah jadi masalah guru itu terkenal galak. Sepanjang hidup, saya pernah mengalami berkali-kali guru galak namun toh tidak dibenci. Rekan saya Bu Lulu, beuh! Goalak! Guru paling killer di sekolah ini. Menurut saya, disekolah manapun pasti Bu Lulu akan dianggap galak. Tapi anak-anak tetap sayang kepadanya. Kenapa? Karena dia mau mendengarkan anak-anak.

Sayangnya, Pak Guru ini, tidak mau instropeksi diri. Dia langsung mengundurkan diri saat itu juga.

Atas prakarsa Bu Eni, akhirnya mulai tahun ajaran kemarin, kami semua menyisihkan waktu satu minggu sekali untuk saling berbagi. Namanya disebut ‘Rapat Jum’at’. Setiap hari Jum’at, dan disebut rapat biar tidak ada yang berani mangkir. Yah, sebenernya sih Cuma kita-kita para guru ngumpul semua, saling curhat mengenai kesulitan masing-masing dan saling memberi kritik dan saran. Awal-awalnya, yah, rada-rada kaku. Beberapa guru terlihat tidak suka dan sedikit kesal merasa digurui. Lama-lama, cair tentu. Kita jadi jauh lebih terbuka, lebih berani untuk mengungkapkan pendapat, lebih perduli dengan kesulitan rekan, dan lebih legowo saat dikritik.

Trik Menghadapi Bos Yang Menyebalkan

Atasan memang kerap membuat tekanan kerja di kantor lebih berat dari semestinya. Kerja anda sudah menumpuk, waktu tidak mendukung, pun atasan anda tidak memberikan solusi alternatif dari persoalan anda, yang ia ketahui hanyalah anda harus menyelesaikan tugas sesuai jadwal.

Keadaan tersebut tentu membuat anda merasa tidak dihargai, dilupakan, atau diacuhkan. Seiring timbulnya asumsi, psikologi anda ikut terganggu, konsentrasi terpecah, pun kerja tak jua terselesaikan.

Kesalahan memang bisa saja anda timpakan kepada atasan karena bersikap tidak toleran, namun daripada menyalahkan dan memusuhi atasan, kenapa tidak mulai untuk menerima sifatnya.

Terima saja bahwa atasan anda memiliki sifat demikian, terlepas dari sikapnya terhadap anda, karena memang atasan memiliki kekuatan untuk mengarahkan kerja anda, selain itu, atasan merupakan satu paket dengan perusahaan, jadi tatkala anda setuju bekerja pada suatu perusahaan, berarti anda siap bekerja tanpa melihat siapa atasan anda.

Pelajari bagaimana gaya manajemen atasan anda, hal ini akan memudahkan anda untuk beradaptasi dengan pekerjaan sekaligus mencari ritme kerja yang tepat. Juga ingat bahwa atasan anda menghadapi tekanan yang serupa dengan anda.

Psikolog...Sahabat Sejati Dalam Suka & Duka

psikolog-160Anda tentu sering mendengar istilah 'psikolog', entah itu di berita televisi, radio, atau ketika kita membaca harian cetak (koran, majalah, dsb). Profesi 'psikolog' seringkali dihubungkan dengan berbagai masalah-masalah sosial, mulai dari kasus anak, perkawinan, dan sebagainya. Tidak jarang pula, bagi orang awam khususnya, muncul pertanyaan, siapa mereka itu? Seorang dokterkah? Atau siapa...

Siapakah Psikolog Itu ?

Dari segi definisi, dapat dijelaskan bahwa psikolog adalah seorang sarjana psikologi yang telah menempuh studi program akademik (sarjana) dan melanjutkan pada program profesi psikolog. Lantas apa yang menjadi perhatian atau fokus utama dari seorang psikolog? Psikologi sendiri merupakan suatu ilmu mengenai perilaku manusia. Dengan demikian, keahlian seorang psikolog adalah menganalisa perilaku dalam upaya untuk memahami karakter individu maupun kelompok. Lebih sederhananya, bila seorang dokter dekat dengan masalah kesehatan fisik, maka segala hal yang terkait dengan perilaku manusia merupakan hal yang dipelajari oleh seorang psikolog.

Lalu, pertanyaan selanjutnya, perilaku-perilaku macam apa yang menjadi perhatian dari para psikolog? Manusia tidak pernah lepas dari tiga aspek, yaitu pikiran, perasaan, dan juga tingkah laku. Seorang psikolog akan berupaya untuk memahami bagaimana manusia berpikir, bagaimana perasaannya dan bagaimana pula mereka menunjukkan perilaku ketika menghadapi situasi tertentu. Contoh nyatanya begini, sebutlah seorang anak bernama A, usia 5 tahun berjenis kelamin laki-laki. Orang tua A sering dibuat pusing oleh perilaku A yang dinilai sangat nakal dan suka mengganggu teman-temannya. Tidak jarang pula orang tua A marah dan menghukum A manakala A menunjukkan perilaku yang dianggap melanggar aturan. Dari contoh kasus ini, dimana letak peran seorang psikolog? Dengan bekal pendidikan dan pengalaman menangani kasus-kasus serupa, seorang psikolog dapat menjelaskan mengapa A berperilaku tidak seperti yang diharapkan oleh orang tuanya, dan seorang psikolog pun dapat memahami mengapa orang tua dapat bersikap marah atau menghukum A atas perilakunya itu. Dari sini pula, seorang psikolog biasanya memberikan gambaran mengenai perilaku anak dalam usia perkembangannya serta memberikan tips atau kiat-kiat bagi para orang tua dalam menghadapi perilaku anak. Namun demikian hal yang perlu diingat adalah bahwa seorang psikolog bukanlah sosok ahli yang dapat memecahkan setiap masalah, melainkan seseorang dengan bekal pendidikannya yang mampu melihat masalah dari sudut pandang yang lain. Contoh diatas barulah satu dari sekian banyak perilaku manusia, baik itu pada anak-anak, remaja, dewasa, maupun para lanjut usia (lansia).

Hal-hal Keliru Tentang Psikolog

Tidak jarang, orang-orang menganggap psikolog sebagai peramal, orang yang ahli memecahkan masalah atau bahkan dianggap sebagai dokter yang menangani pasien sakit jiwa. Terkait dengan adanya penilaian yang keliru tentang profesi psikolog yang identik dengan masalah kejiwaan, hal ini membuat orang menjadi enggan untuk menemui psikolog karena takut dianggap 'gila' oleh orang lain.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, peran psikolog adalah membantu memahami perilaku manusia, apapun bentuk perilaku itu, jadi tidak hanya sebatas masalah kejiwaan saja. Justru bila hal tersebut berkaitan dengan masalah kejiwaan, profesi yang dinilai lebih ahli adalah psikiater (sebutan untuk dokter yang mengambil spesialisasi kejiwaan).

Apa Tugas Seorang Psikolog ?

Tugas atau peran dari seorang psikolog tergantung pada tempat dimana mereka bekerja. Misalnya saja seorang psikolog klinis, biasanya bekerja disebuah rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, puskesmas, atau membuka praktek sama halnya dengan para dokter. Seorang psikolog klinis mempunyai peran untuk melakukan upaya penyembuhan atau pencegahan terhadap munculnya gangguan jiwa. Kemudian peran lainnya adalah membentuk perilaku sehat secara perorangan maupun dalam kelompok serta meningkatkan perkembangan jiwa dan kualitas hidup individu dan kelompok. Masalah-masalah seperti kecemasan, tidak percaya diri, kenakalan remaja, bagaimana membentuk keluarga yang harmonis, atau masalah anak seperti yang dijelaskan sebelumnya juga merupakan kasus-kasus yang dapat ditangani oleh psikolog.

Selain psikolog klinis, terdapat pula psikolog industri organisasi. Sesuai sebutannya, psikolog ini memiliki keahlian dalam hal industri/organisasi dimana biasanya mereka bertugas pada divisi Sumber Daya Manusia (SDM) dari suatu perusahaan. Peran dari psikolog industri organisasi antara lain melakukan proses rekruitmen karyawan, mengembangkan sumber daya perusahaan (misal dengan mengadakan pelatihan internal untuk karyawan), merancang dan mengevaluasi sistem kebijakan perusahaan, hingga melakukan proses evaluasi kinerja karyawan.

Psikolog lainnya adalah psikolog pendidikan, yang biasanya ditempatkan di sekolah-sekolah umum maupun swasta dari berbagai jenjang (play group hingga SMA). Psikolog pendidikan memiliki andil dalam merancang kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan usia perkembangan anak. Selain itu, psikolog pendidikan berperan untuk senantiasa memonitor perilaku anak didik di lingkungan sekolah, keluarga ataupun masyarakat melalui komunikasi dua arah dengan orang tua anak.

Bagaimana Cara Psikolog Bekerja ?

Bila seorang dokter menggunakan alat seperti jarum suntik, stetoskop, atau memberikan obat atas penyakit pasien, seorang psikolog bekerja dengan cara yang sederhana yaitu mengajak klien berbicara. Inilah yang disebut dengan konsultasi, seseorang datang menemui psikolog, kemudian bila mereka tengah menghadapi suatu masalah, psikolog akan mendengarkan - kemampuan yang harus dimiliki psikolog, dan memahami keadaan klien serta bersama-sama akan diupayakan jalan keluar atas masalah tersebut. Selain konsultasi, psikolog terkadang menggunakan berbagai alat tes (misalnya tes IQ) dalam rangka melengkapi data tentang pasien.

Cara lain adalah dengan melalui pemberian penyuluhan maupun seminar pada masyarakat. Dalam setting klinis misalnya, metode tersebut kerap dilakukan oleh psikolog bekerja sama dengan para dokter, maupun pihak lain yang berhubungan dengan masalah peningkatan kesehatan masyarakat. Mungkin diantara Anda ada yang pernah mengikuti penyuluhan ataupun seminar yang membahas mengenai penyakit AIDS, narkoba, dan lain-lain.

Demikian penjelasan singkat mengenai siapa dan bagaimana peran psikolog dalam masyarakat. Anda tidak perlu terpengaruh dengan adanya anggapan bahwa menemui psikolog berarti mengalami gangguan jiwa, karena ada banyak hal yang menjadi perhatian para psikolog, baik itu di lingkungan pelayanan kesehatan, perusahaan, maupun sekolah. Jadikanlah para psikolog sebagai sosok sahabat untuk berbagi suka dan duka serta tempat bertanya tentang banyak hal, mulai dari masalah anak, remaja, dewasa dan lansia dalam rangka meningkatkan kualitas hidup pribadi maupun kelompok (ah).

Psikologi, Sosiologi, Dan Ilmu Pendidikan

Di kalangan masyarakat , baik awam maupun terpelajar, banyak terjadi kerancuan pandangan tentang ide-ide yang dihasilkan melalui pola pikir aqliyah dan teori –teori ilmiah yang dihasilkan oleh pola pikir sains.

Berdasarkan asumsi dan anggapan yang rancu ini mereka menganggap psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan sebagai suatu ilmu, dan ide-ide yang dihasilkannya mereka anggap sebagai pemikiran ilmiah. Sebab, menurut mereka ilmu-ilmu itu dibangun berlandaskan pengamatan yang dilakukan secara berulang-ulang terhadap anak dalam kondisi dan umur yang berbeda atau dilakukan terhadap berbagai kelompok masyarakat dalam situasi dan kondisi yang saling berbeda . Pengamatan yang dilakukan secara berulang kali itu dinamakan sebagai “eksperimen ilmiah “.

Sesungguhnya psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan , bukan merupakan pemikiran ilmiah, melainkan pemikiran yangg dihasilkan melalui pola pikir rasional, sebab eksperimen ilmiah adalah cara memperlakukan suatu benda atau materi pada suatu situasi tertentu, bukan dalam keadaan yang alami . Dari hasil perlakukan tersebut kemudian dilakukan pengamatan untuk melihat hasilnya. Dengan kata lain , eksperimen ilmiah dilakukan terhadap materi (benda) seperti eksperimen-eksperimen dalam bidang ilmu pengetahuan alam atau kimia.

Adapun pengamatan terhadap “sesuatu” (dalam hal ini manusia) pada waktu dapat dikatakan sebagai eksperimen ilmiah.

Oleh karena itu, pengamatan terhadap anak –anak atau balita pada kondisi dan tingkatan umur yang berbeda , atau pengamatan terhadap sekelompok masyarakat di beberapa negara dalam kondisi yang berbeda, serta pengamatan terhadap perbuatan /aktifitas beberapa orang pada kondisi yang berbeda, tidak dapat dimasukkan dalam kategori eksperimen ilmiah , sehingga tidak dapat digolongkan dalam pola pikir sains.Bentuk ini sebenarnya hanya pengamatan yang dilakukan secara berulang-ulang lalu menghasilkan suatu kesimpulan.Berarti , tergolong dalam pola pikir rasional dan bukan pola pikir sains. Berdasarkan penjelasan diatas, maka ide-ide yang menyangkut kategori ilmu psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan adalah ide-ide yang berlandaskan pola pikir rasional dan tergolong dalam pembahasan ilmu sains.

Disamping itu, yan dihasilkan dari ilmu psiklogi, sosiologi, dan ilmu pendidikan adalah ide-ide yang bersifat dugaan/persangkaan, sehingga mengandung unsur kesalahan dan bukan ide-ide yang bersifat pasti.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai dasar atau asaa menentukan hakikat sesuatu atau dijadikan sebagai pegangan untuk menentukan benar-tidaknya sesuatu. Hal ini disebabkan karena ilmu-ilmu semacam ini, tidak tergolong dalam realita ilmiah /postulat ilmiah, sehingga dapat dikatakan benar sampai terbukti kesalahanya. Namun demikian, ia tetap sebagai pengetahuan yang bersifat dugaan yang dihasilkan melalui cara dan metode yang tidak menghantarkan pada suatu kepastian .

Meskipun diakui bahwa ilmu-ilmu tersebut dihasilkan melalui pola pikir rasional, tetapi ilmu-ilmu tersebut tidak berupa penentuan erhadap “keberadaan” sesuatu. Cara penentuan seperti itu masih bersifat dugaan yang mengandung unsur kesalahan. Jadi ketiga macam ilmu pengetahuan tersebut sebenarnya dibangun di atas dasar kesalahan, maka wajarlah bila pemikiran-pemikiran yang dihasilkan mengandung ide-ide yang keliru.

Menurut kenyataan, ilmu psikologi secara umum dibangun berlandaskan pandangannya terhadap naluri dan otak manusia.Pakar ilmu psikologi memndang bahwa dalam diri manusia terdapat banyak naluri. Sebagian telah diketahui dan sebagian lagi belum terungkap. Berdasarkan pandangan yang salah terhadap naluri ini, para psikolog membangun dan mengembangkan banyak teori yang salah . Inilah penyebab kerancuan sebagian besar pemikiran yang terdapat dalam ilmu psikolog.

Adapn pandangannya tentang otak, maka ilmu psikologi menganggap otak manusia terbagi dalam beberapa bagian. Setiap bagian mempunyai bakat yang spesifik. Begitu juga otak sebagian manusia mempunyai bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mereka mengatakan bahwa ada sebagian manusia yang mempunyai bakat untuk memahami bahasa, sedangkan yang lain berbakat di bidang matematika dan seterusnya. Berdasarkan pandangan yang keliru ini telah dibangun banyak teori yang salah. Hal ini menyebabkan kesalahan dalam banyak ide yang terdapat dalam ilmu psokologi.

Setelah mengamati reaksi manusia dapat dilihat bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang dinamis yang memiliki dua gejala. Gejala pertama mengharuskan terpenuhinya kebutuhan secara pasti, yang bila tidak dipenuhi dia akan mati. Sedangkan gejala yang kedua memerlukan pemenuhan, yang bila tidak terpenuhi ia tetap hidup hanya saja ia akan menderita “sakit” dan gelisah.

Dalam gejala pertama dapat dimasukkan kebutuhan jasmani ; misalnya rasa lapar, haus, atau buang hajat. Sedangkan pada gejala yang kedua dapat dimasukan naluri, yaitu naluri beragama, naluri mengembangkan dan melestarikan keturunan, serta naluri untuk mempertahankan diri. Semuua naluri ini muncul dalam bentuk perasaan-perasaan serba kurang dan tidak mampu, perasaan untuk mempertahankan jenis keturunannya dan persaan untuk mempertahankan diri.Selain yang tiga itu tidak ditemukan penampakan naluri-naluri lain. Selain dari tiga naluri diatas maka tidak lain hanyalah manifestasi untuk masing-masing naluri tersebut, seperti rasa takut dan cinta kekuasaan yang merupakan manifestasi untuk naluri mempertahankan diri; atau seperti pengagungan terhadap pahlawan dan ingin menyembah sesuatu adalah manifestasi dari naluri beragama; demikian pula dorongan seksual terhadap lawan jenis, rasa kebapakan, keibuan dan rasa persaudaraan tidak lain merupakan manifestasi dari naluri mengembangkan dan melestarikan jenis. Begitu pula terhadap setiap manifestasi lain yang dapat dikembalikan pada tiga macam naluri tadi.

Perkembangan Psikologi Remaja

Perkembangan Psikologi Remaja

Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

Setiap tahap perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut. Berikut ini merupakan berbagai tuntutan psikologis yang muncul di tahap remaja, berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi pendidik.

Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif

Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Dewi merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Dewi akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Dewi yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Dewi akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Dewi tidak memiliki teman, dan sebagainya.

Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua

Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku “pemberontakan” dan melawan keinginan orang tua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar. Hal yang sama juga dilakukan remaja terhadap orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’, guru misalnya.

Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin

Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perkembangan remaja tersebut.

Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri

Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau bahkan sampai tua sekalipun).

Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma

Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah “aku” ?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya. Maka penting bagi orang tua dan orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’ untuk mampu menjadikan diri mereka sendiri sebagai idola bagi para remaja tersebut.

Selain berbagai tuntutan psikologis perkembangan diri, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:

  • Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
  • Emosinya tidak stabil
  • Perkembangan Seksual sangat menonjol
  • Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
  • Terikat erat dengan kelompoknya

Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan.

Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:

1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun

a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:

  • Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
  • Anak mulai bersikap kritis

b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:

  • Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
  • Memperhatikan penampilan
  • Sikapnya tidak menentu/plin-plan
  • Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib

c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:

  • Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
  • Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria

2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun

Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:

  • perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
  • mulai menyadari akan realitas
  • sikapnya mulai jelas tentang hidup
  • mulai nampak bakat dan minatnya

Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.

Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya.

Tidur Dapat Kurangi Depresi

Jangan biasakan begadang, kalau tidak ada aktivitas penting dan genting….anda biosa jadi mudah pening. Terutama bagi remaja yang biasa tidur lewat tengah malam akan lebih mudah terkena depresi, dibanding yang tidur lebih awal

Penelitian terbaru yang dilakukan di New York menunjukkan bahwa tidur lebih awal akan melindungi para remaja dari depresi dan pemikiran ingin bunuh diri.

Seks Online Makin Akrab dengan Anak-anak


ilustrasi (ist) Salah satu sisi kelam dunia internet, yakni hal-hal berbau cabul nampaknya makin akrab dengan anak-anak di sepanjang tahun 2009 ini.

Ini terlihat dari hasil penelitian vendor keamanan Symantec, yang mengungkap 100 topik pencarian paling populer tahun ini di kalangan anak-anak anak usia 13-18 tahun.

Mengajari Anak Menulis Tangan Penting

Psikologi mengenal grafologi, yaitu ilmu perilaku yang fokus untuk memahami seseorang berdasarkan kebiasaannya dalam menulis. Tulisan merupakan sampel perilaku, bahkan sampel “buah” perilaku, yang disimbolkan dengan karakteristik tulisan seperti tebal tipis, lurus bengkok, halus kasar, tekanan mengambang, feminim maskulin, tajam tumpul, konsisten inkonsisten, kuat lemah, tinggi pendek, condong kiri kanan, tegak miring, terbuka tertutup, dan ritmik dan tidak ritmik. Semua indikasi tulisan “diyakini” oleh para grafolog memiliki trace kepribadian. Misalnya, secara awam saja kalau orang menulis acak-acakan, jorok, tajam-tajam…mugkin anda juga akan menduga bahwa orangnya demikian. Nah grafologi berbeda dengan ilmu rajah tangan,atau garis tangan. Meski akurasi grafologi untuk memprediksi kepribadian seringkali ditentukan oleh seberapa ahli interpreternya, tetapi secara umum orang sepakat bahwa hendaknya orang memiliki tulisan yang rapih, baik, dan enak dibaca. Nah banyak yang menjadikan grafologi juga sebagai terapi beberapa perilkau kepribadian. Jangan heran bila remaja yang sedang jatuh cinta biasanya juga mendadak berubah tulisannya. ya ……tidak salah anda perlu mendidik anak-anak memiliki tulisan yang “baik, enak dibaca, dan sesuai dengan EYD…”

Nonton TV Sebabkan Serangan Jantung dan Kanker

Para penikmat televisi dan orang-orang yang terlalu banyak duduk, beresiko tinggi terkena serangan jantung dan kanker

Jika setiap hari menonton televisi, maka resiko kematian akibat terkena serangan jantung meningkat 1/5 kali. Begitu pula dengan aktivitas sendiri, seperti mengemudi dan duduk di depan komputer, beresiko besar terkena penyakit serius, demikian kesimpulan para peneliti Australia.

Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang menghabiskan waktu lebih dari empat jam menonton televisi, 80 persen cenderung meninggal karena penyakit yang berkaitan dengan jantung, dibandingkan mereka yang menonton televisi kurang dari dua jam.

Dengan menelusuri gaya hidup 8.800 orang dewasa dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, peneliti juga menemukan bahwa mereka yang senang menonton tv lebih beresiko meninggal karena kanker.

Hasil penelitian tersebut dimuat dalam jurnal kesehatan Circulation: Journal of the American Heart Association edisi bulan ini.

Pemimpin penelitian Prof David Dunstan, dari Baker IDI Heart and Diabetes Institute di Victoria mengatakan, “Kebanyakan orang, sehari-hari mereka punya kebiasaan pindah dari satu kursi ke kursi lainnya–dari kursi mobil ke kursi kantor, lalu ke kursi di depan televisi.”

“Bahkan jika seseorang memiliki bobot tubuh yang sehat, duduk untuk jangka waktu yang lama memiliki dampak yang tidak sehat bagi kadar gula tubuh dan lemak dalam darah.”

Para peneliti memeriksa tingkat kadar kolesterol dan gula darah mereka–sebagai indikator kunci kesehatan–dan berapa jam mereka habiskan untuk menonton televisi.

Dalam enam tahun, sebanyak 87 orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler, dan 125 orang meninggal karena kanker.

Penelitian yang dilakukan itu mengesampingkan faktor resiko lainnya, seperti merokok dan tekanan darah tinggi.

Para peneliti menganjurkan agar orang-orang menghindari kebiasaan duduk dalam jangka waktu yang lama, untuk mengurangi resiko terbentuknya penyakit.
Ilustrasi:Laura Doss/Corbis

Riset Terbaru: Olah Raga Bukan Untuk Badan, Tapi Otak

Olahraga untuk otak memang populer akhir-akhir ini, namun tahukah Anda bahwa olahraga yang kita lakukan tidak hanya baik untuk jantung dan berat badan tapi juga efektif untuk mengasah otak.

“Olahraga sebenarnya lebih berguna untuk otak, bukan tubuh, karena olahraga sangat memengaruhi mood, vitalitas, konsentrasi dan perasaan positif seseorang,” kata John J.Ratey, MD, penulis buku A User’s Guide to the Brain.

Stephen C.Putnam, MEd, penulis buku Nature’s Ritalin for the Marathon Mind, juga menyatakan manfaat olahraga untuk anak-anak dengan cedera otak, seperti anak hiperaktif. Dengan kegiatan olahraga, kelainan perilaku anak bisa dikurangi dan fokus mereka ditingkatkan.

Dalam penelitian yang dilakukan Putnam diketahui anak yang melakukan olahraga 15-45 menit sebelum masuk kelas cenderung memiliki sikap yang lebih baik dan mudah berkonsentrasi di kelas. Selain membuat tubuh terasa bugar, olahraga juga akan membuat otak lebih segar.

Belum Nikah Sampai 40 Tahun Pertanda Punya Mental Sehat

Telat nikah hingga jadi “perawan tua” boleh ajdi bukan pertanda kegagalan emosional. Sebab banyak faktor kenapa orang menjadi perwan tua. Ada sebagian orang awam berpendapat bahwa “perawan tua” memiliki masalah dengan emosi, suka pilih-pilih, kurang pergaulan, wanita karir, kena kutukan karena suka menolak, terlalu high standart dan macam-macam. Tentu pendapat itu tidak memiliki dasar yang argumentatif. Masih banyak sebab kenapa seseorang belum juga menikah. Terutama untuk wanita, faktanya komposisi jumlah usia nikah juga mulai timpang, yaitu 1 laki-laki berbbanding 3 perempuan, tentu ini juga bukan alasan untuk poligami apalagi tidak mungkin orang menikah dalam waktu serentak. Oleh karena itu kita perlu melihat sisi lain dari fenomena ini “menunda perkawinan”, atau bisa jadi menunda kebahagiaan?

detik.com melansir hasil penelitian di Villanova, AS, Menurut hasilnya seseorang yang masih melajang hingga umur 40-an tahun selalu mendapat pertanyaan kenapa tidak menikah. Bukannya tak mau menikah, tapi mereka sudah merasa nyaman dengan kesendiriannya. Meski studi sudah membuktikan bahwa menikah baik untuk kesehatan, tapi ada hal lain yang ternyata membuat seseorang betah menjomblo.

Studi terkini di bidang psikologi menunjukkan bahwa orang-orang yang belum menikah hingga umur 40-an tahun ke atas punya kesehatan emosional yang lebih baik dibanding mereka yang sudah menikah.

Studi dilakukan dengan mengambil data 1.500 partisipan lebih berumur 40 hingga 74 tahun dari the National Survey of Midlife Development, Amerika Serikat. Sebanyak 1.486 partisipan sudah menikah sedangkan 105 lainnya belum menikah.

“Hal menarik yang kami temukan disini adalah, mereka yang belum menikah punya sisi psikologis dan kesehatan emosional yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi tantangan hidup. Mereka merasa punya kekuatan lebih, tahu caranya mengurus diri sendiri dan bisa mengontrol hidupnya lebih baik dengan status lajang mereka daripada partisipan lain yang seumuran dan sudah menikah,” ujar Jamila Bookwala, profesor psikologi dari Lafayette College, Easton seperti dilansir Healthday, Minggu (6/12/2009).

Peneliti mengukur kekuatan psikologis dan kesehatan emosional partisipan yang belum menikah melalui tiga kriteria yaitu keahlian personal, tingkat fokus dan kecukupan materi. Mereka yang belum menikah biasanya memiliki tingkat pendidikan dan karir yang cukup matang. Keahlian yang mereka punya dirasa cukup untuk mengatasi segala bentuk persoalan hidup, termasuk depresi.

Fokus pada diri sendiri pun menjadi faktor penentu kesehatan mentalnya, dimana fokus mereka yang belum menikah hanya tertuju pada dirinya saja, sehingga beban mentalnya menjadi lebih sedikit. Sedangkan kecukupan materi yang mereka punya bisa mencukupi segala kebutuhannya dan tidak merasa tergantung atau harus menanggung kebutuhan orang lain karena belum memiliki keluarga.

“Studi ini mematahkan mitos yang mengatakan bahwa ada masalah psikologis pada individu yang belum menikah serta mitos yang mengatakan bahwa menikah adalah langkah terbaik yang harus ditempuh setiap orang dalam hidupnya,” ujar Patrick Markey, profesor psikologi dari Villanova University, Villanova.

Meski menikah disebut-sebut sebagai bagian terbaik dalam hidup, tapi ternyata belum tentu bagi sebagian orang. “Mereka justru lebih bahagia karena tidak menikah,” tambah Markey.

Namun studi lebih lanjut dengan jumlah partisipan yang lebih banyak perlu dilakukan lagi mengingat jumlah partisipan dalam studi ini cukup sedikit, yakni sekitar 100 orang lebih.

Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi

Satu lagi hasil penelitian menegaskan bahwa syariat Islam benar-benar yang terbaik bagi kehidupan manusia, termasuk bagi mereka penderita gangguan kesehatan

Kewajipan shalat lima kali sehari semalam ke atas semua umat Islam bermula sejak Rasulullah diangkat ke langit saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Begitu istimewa sekali ibadah shalat sehingga Rasulullah SAW naik ke langit bagi menerima Rukun Islam yang kedua ini, tidak seperti ibadah-ibadah lain.

Keistimewaan shalat menarik minat peneliti Universiti Malaya (UM). Minat penelitian ini timbul karena dipandang masih teramat sedikitnya kajian yang komprehensif mengenai shalat dari segi saintifik.

Sebuah studi ilmiah di Malaysia mengungkap manfaat dari ibadah shalat, tidak hanya meningkatkan iman seseorang, tapi melakukannya dengan gerakan yang benar juga bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik, termasuk menyembuhkan disfungsi ereksi.

Manfaat lain yang diungkap dari penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti biomedis di Universitas Malaya adalah, shalat bisa mengurangi detak jantung yang cepat, mengurangi sakit punggung, dan menguatkan otot bawah panggul.

Penelitian ini dikethuai Kepala Biomedical Engineering Department di Universitas Malaya, Prof Madya Dr Fatimah Ibrahim beranggotakan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abas dan Ng Siew Cheok. Menurut Fatimah Ibrahim, berdasarkan hasil studi mereka menemukan shalat dapat membantu pasien penderita disfungsi ereksi.

Mengutip hasil studi peneliti sebelumnya Marijke Van Kampen, Dr. Fatimah mengatakan olahraga untuk otot bawah panggul bisa memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi gejala penyakit disfungsi ereksi.

“Percobaan yang kami lakukan terhadap dua orang pasien penderita disfungsi ereksi, menunjukkan adanya perbaikan yang cepat (dalam hal kesehatan seksual mereka), setelah menjalani “terapi shalat” selama satu bulan,” katanya kepada para wartawan setelah pembukaan seminar nasional “Shalat Science” di Masjid Wilayah Persekutuan, Malaysia (5/8). Seminar dibuka oleh mantan perdana menteri Malaysia Tun Abdullah Ahmad Badawi.

Dr. Fatimah mengatakan, gerakan shalat juga bisa mengurangi derita sakit punggung, terutama bagi ibu hamil. Studi itu dilakukan dengan melibatkan pasien penderita sakit punggung biasa dan ibu hamil dari komunitas Melayu, India dan China.

Posisi Rukuk


12 raka’at shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan

Menurut Ng Siew Chok yang menjalankan kajian otak dalam dalam penelitian ini mengatakan, setiap pergerakan manusia menghasilkan corak gelombang otak yang tertentu dan unik.

Gelombang otak yang dihasilkan ketika pergerakan meliputi gelombang alfa, beta dan gamma.

Kajian akan dilakukan atas gelombang otak yang dihasilkan ketika bersslat pada setiap posisi seperti rukuk, sujud, I’tidal dan duduk saat tahiyat.

“Shalat jelas secara umumnya melibatkan bacaan serta penghayatan ayat suci Al-Quran, doa-doa serta pergerakan yang didapati menyamai meditasi.

“Semasa solat, berhenti seketika sebelum berganti posisi atau tuma’ninah dapat dikatakan seseorang berada dalam masa ketenangan,” katanya.

Dalam kajian ini isyarat otak subjek Muslim yang bershalat direkam dan dianalisis, di mana dua kajian saintifik dilakukan yaitu pada perobahan isyarat otak saat tuma’ninah dan kesan shalat kepada isyarat otak.

Hasilnya, kata Siew Cheok, didapati shalat menghasilkan keadaan tenang kepada otak manusia dan menunaikan shalat amat baik dalam mengekalkan tahap kestabilan mental dan emosi seseorang.

Posisi rukuk dan sujud bisa digunakan sebagai terapi, karena gerakan itu membuat tulang belakang menjadi rileks dan mengurangi tekanan pada syaraf tulang belakang.

“Ibu-ibu non-Muslim hanya melakukan gerakan posisi itu selama terapi berlangsung. Mereka menunjukkan kemajuan hanya dalam waktu satu bulan,” katanya.

Dalam penelitian Prof Dr Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, menemukan bahwa detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah.

Ia mengatakan, 12 raka’at shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan.

Tahajjud

Sebelum temuan ini, Dr. Mohammad Sholeh asal Indonesia melakukan penelitian hubungan shalat tahajjud dan dampaknya bagi kesehatan.

Penelitian menunjukkan, shalat tahajjud yang dilakukan secara ikhlas dan kontinyu, ternyata mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural.

Penelitian berupa disertasi berjudul Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik, juga menunjukkan, bahwa shalat tahajjud bisa menjadi penyembuh penderita kanker ganas (swaramuslim)

Tantangan: 40 Ribu Profesional DiButuhkan Perbankan Syari’ah Indonesia

Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam

Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

www.hidayatullah.com--Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: “hari libur nasional”. Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!

Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.

'Psikologi Anak'

Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam

Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


www.hidayatullah.com--Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: “hari libur nasional”. Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!

Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.

Mengenal Kecerdasan Emosional Remaja

Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Pada masa remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun) terdapat beberapa fase (Monks, 1985), fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun), remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun) masa remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun) dan diantaranya juga terdapat fase pubertas yang merupakan fase yang sangat singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya.

Fase pubertas ini berkisar dari usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun (Hurlock, 1992) dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga kesulitan pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi.

Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Bila aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah (pada umumnya masa remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah) tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang tidak positif, misalnya tawuran. Hal ini menunjukkan betapa besar gejolak emosi yang ada dalam diri remaja bila berinteraksi dalam lingkungannya.

Mengingat bahwa masa remaja merupakan masa yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya dan dalam rangka menghindari hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, remaja hendaknya memahami dan memiliki apa yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini terlihat dalam hal-hal seperti bagaimana remaja mampu untuk memberi kesan yang baik tentang dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri, berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan, dapat mengendalikan perasaan dan mampu mengungkapkan reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan lancar dan efektif.

Apa Sih Kecerdasan Emosional

Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.

Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).

Komponen-Komponen Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat.

Goleman (1995) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :

Mengenali emosi diri

Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.

Mengelola emosi

Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila : mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri.

Memotivasi diri

Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut : a) cara mengendalikan dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berfikir positif; d) optimisme; dan e) keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.

Mengenali emosi orang lain

Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.

Membina hubungan dengan orang lain

Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah yang menyebabkan seseroang seringkali dianggap angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan.

Dengan memahami komponen-komponen emosional tersebut diatas, diharapkan para remaja dapat menyalurkan emosinya secara proporsional dan efektif. Dengan demikian energi yang dimiliki akan tersalurkan secara baik sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan remaja dan bangsa ini. Semoga. (jp)

PERBEDAAN ANTARA PSIKOANALISA, BEHAVIORISME, DAN HUMANISTIK DARI KESEHATAN KEPRIBADIAAN

1.Teori Kepribadian psikoanalisa.
Teori ini berasal dari kepribadian yang bersifat psikodinamik berasal dari para ahli yang sangat dipengaruhi, oleh Sigmund Freud ( 1856-1939 ), bapak psikoanalisa yang sangat terkenal. Teori psikologi freud didasarkan atas keyakinannya bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis. Sebagaimana hukum konservasi, freud juga beranggapan bahwa energi psikis bersifat kekal, tidak dapat dihilangkan, dan bila dihambat akan mencari saluran lain.
Energi psikis inilah yang mendorong perilaku untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis energi psikis itu berasumsi pada fungsi psikis yang berbeda, yaitu : Id, Ego, Superego. Id merupakan, bagian yang bersifat subjektif, yang terdiri dari insting-insting, dan gudangnya energi psikis yang digunakan oleh ketiga system kepribadian. Ego merupakan bagian yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan id yang terkait dengan dunia nyata, memperoleh energi dari id, mengetahui dunia objektif dan subjektif. Superego merupakan komponen moral kepribadian, terdiri dari 2 subsistem : kata hati dan ego yang ideal.
Kemudian Sigmund Freud beranggapan bahwa kehidupan psikis terdiri dari : kesadaran dan ketidaksadaran. Kesadaran diibaratkan sebagai permukaan gunung es yang Nampak. Jadi kesadaran itu merupakan bagian kecil dari kepribadian.ketidaksadaran yang merupakan bagian kecil dari gunung es di bawah permukaan air mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Menurut freud ada bagian lain yang disebut prasadar ( preconscious). Dalam preconscious stimulus-stimulus belum direpres sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali dalam kesadaran.
Freud menyatakan ada insting untuk hidup dan insting untuk mati, insting untuk hidup berupa lapar, haus, dan seks, ini merupakan kekuatan kreatif oleh freud ini disebut Libido, sedangkan insting untuk mati oleh freud disebut kekuatan destruktif.
Ada juga menurutnya, ada 3 macam kecemasan yaitu :kecemasan objektif, kecemasan neurotik, dan kecemasan impulsif.
Freud memandang organisme manusia sebagai system energi yang kompleks. System energi ini berasal dari makanan yang dimakannya dan dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan, seperti peredaran darah, pernapasan, gerakan otot, pengamatan, berfikir, dan mengingat.

2. Teori Kepribadian Behaviorisme.
Behaviorisme merupakan orientasi teoritis yang didasarkan pada premis bahwa psikologi ilmiah harus berdasarkan studi yang teramati. Teori ini dicetuskan oleh John B. Watson.adapun teori ini terbagi atas 2 bagian yaitu:
1. Teori kepribadian Klasikal.
Kepribadian ini dicetuskan oleh Juan Petrovich Pavlov, dia menggunakan eksperimen terhadap seekor anjing. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabilaair liur keluar dapat dilihat dan dapat ditampung dalam tempat yang telah disediakan. Apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur, ini merupakan respon yang alami, respon yang reflektif, yang oleh Pavlov disebut respon yang tidak terkondisi yang disingkat UCR. Apabila anjing mendengarkan bel dan kemudian menggerakan telinganya, ini merupakan respon yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak terkondisi atau UCS dan gerak telinga sebagai UCS.
2. Teori Kepribadian Operan.
Yaitu dicetuskan oleh Skinner yang membagi tingkah laku dalam 2 tipe yaitu: responden dan operan. Tingkah laku responden adalah respon atau tingkah laku yang dibangkitkan atau dirangsang oleh stimulus tertentu. Tingkah laku responden ini wujudnya refleks. Tingkah laku responden ini ternyata dapat dibentuk melalui proses conditioning atau belajar. Tingkah laku ini bergantung pada reinforcement dan secara langsung merespon stimulus yang bersifat fisik.Tingkah laku operan adalah respon atau tingkah laku yang bersifat spontan tanpa stimulus yang mendorongnya secara langsung. Tingkah laku ini ditentujan atau dimodifikasi oleh reinforcement yang mengikutinya. Contohnya : ketika tikus yang dimasukan di dalam peti yang diberi makan untuk berapa waktu lamanya ( tikus menjadi lapar ), dia bertingkah laku secara spontan dan acak, dia aktif, mendengus, mendorong, dan mengeksplorasi lingkungannya. Tingkah laku ini bersifat sukarela, tidak dirangsang, dalam arti respon tikus itu tidak dirangsang oleh stimulus tertentu dari lingkungannya.
Menurut Skinner reinforcement dapat terdiri dari 2 cara: positif dan negatif, yang positif ini sinonim dari “reward” ( penghargaan ), sementara yang negative memainkan peranan dalam perkembangan kecendrungan-kecendrungan untuk menghindar.

3. Teori Kepribadian Humanistik.
Teori humanistic berkembang pada tahun sekitar tahun 1950-an. Psikologi humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Psikologi humanistik manusia adalah makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan pada kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.
Abraham Maslow menekankan pada teori motivasinya yaitu :
1) Kebutuhan-kebutuhan fisiologis.
2) Kebutuhan-kebutuhan rasa aman.
3) Kebutuhan-kebutuhan rasa cinta dan memiliki.
4) Kebutuhan akan penghargaan.
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri.

KRITIKAN HUMANISTIK TERHADAP BEHAVIORISME DAN PSIKOANALISA

Sebagai teori yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap 2 teori ini, adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori freud dikritik, karena memandang tingkah laku manusia didominasi atau ditentukan oleh dorongan yang bersifat primitif, dan animalistic ( hewani ). Sementara behavioristik dikritik, karena teori ini terlalu asyik dengan penelitiannya terhadap binatang, dan menganalisis kepribadian secara pragmentaris. Kedua teori ini dikritik, karena memandang manusia sebagai bidak atau pion yang tak berdaya dikontrol oleh lingkungan dan masa lalu, dan sedikit sekali kemampuan untuk mengarahkan diri.
Teori humanistik dipandang sebagai “ third force ” ( kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternatif dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominant ( psikoanalisis dan behavioristik ). Kekuatan ketiga ini disebut humanistik, karena memiliki minat yang eksklusif terhadar tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan sebagai “ orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik khususnya terkait dangan free will ( kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya”
Para ahli psikologi humanistik mempunyai perhatian terhadap isu-isu penting tentang eksistensi manusia, seperti: cinta, kreatifitas, kesendirian, dan perkembangan diri. Mereka tidak meyakini bahwa manusia dapat mempelajari sesuatu tentang kondisi manusia melalui penelitian terhadap hewan. Para ahli teori humanistik memiliki pandangan yang optimistic terhadap hakikat manusia, mereka meyakini bahwa :
1) Manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengembangkan diri.
2) Manusia memiliki kebebasan untuk merancang atau mengembangkan tingkah lakunya, dalam hal ini manusia bukan pion yang diatur sepenuhnya oleh lingkungan, dan
3) Manusia adalah makhluk rasional dan sadar, todak dikuasai oleh ketidaksadaran, kebutuhan irrasional, dan konflik.
Para ahli teori ini juga berpendapat bahwa pandangan manusia tentang dunia
Bersifat subjektif lebih penting dari realitas objektif. Jika anda berpikir bahwa anda bersifat sederhana, cerdas, atau pandai bergaul, maka keyakinan-keyakinan ini akan lebih mempengaruhi tingkah laku anda daripada realitas actual tentang ketiga sifat tersebut.
Di antara para ahli teori humanistik yang dipandang paling berpengaruh, adalah Carl R. Rogers dan Abraham Maslow.

Apakah Psikologi Kesehatan ?

Psikologi Kesehatan dikembangkan untuk memahami pengaruh psikologis terhadap bagaimana seseorang menjaga dirinya agar tetap sehat, dan mengapa mereka menjadi sakit dan untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan saat mereka jatuh sakit.

Selain mempelajari hal-hal tersebut di atas, psikologi kesehatan mempromosikan intervensi untuk membantu orang agar tetap sehat dan juga mengatasi kesakitan yang dideritanya.

Psikologi kesehatan tidak mendefinisikan “sehat” sebagai tidak sakit. Sehat dilihat sebagai pencapaian yang melibatkan keseimbangan antara kesejahteraan fisik, mental dan sosial. Psikologi kesehatan mempelajari selruh aspek kesehatan dan sakit sepanjang rentang hidup. Psikologi kesehatan fokus pada pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, seperti bagaimana mendorong anak mengembangkan kebiasaan hidup sehat, bagaimana meningkatkan aktivitas fisik, dan bagaimana merancang suatu kampanye yang dapat mendorong orang lain memperbaiki pola makannya.

Psikologi Kesehatan juga mempelajari aspek-aspek psikologis dari pencegahan dan perawatan sakit. Seorang psikologi kesehatan misalnya, membantu mereka yang bekerja di lingkungan yang memiliki tingkat stress yang tinggi untuk mengelola stress dengan efektif, sehingga tekanan yang dialami di lingkungan kerja tidak mempengaruhi kesehatan mereka. Seorang psikolog kesehatan juga dapat bekerja dengan mereka yang sedang menderita suatu penyakit agar dapat menyesuaikan mental dan fisik mereka dengan penyakit tersebut atau untuk mematuhi treatment yang dirancang oleh dokter yang merawatnya.

Psikolog kesehatan juga fokus pada etiologi dan kaitannya dengan kesehatan, sakit dan disfungsi. Etiologi merujuk pada asal dan penyebab sakit, dan psikolog kesehatan secara khusus tertarik pada faktor-faktor perilaku dan sosial yang menyumbang kesehatan dan sakit dan disfungsi. Faktor-faktor tersebut meliputi kebiasaaan yang merusak atau menunjang kesehatan seperti konsumsi alkohol, merokok, olahraga, mengenakan sabuk pengaman, dan cara-cara ‘berkawan’ dengan stress.

Pada akhirnya, psikolog kesehatan menganalisa dan berusaha meningkatkan system perawatan kesehatan dan merumuskannya dalam kebijakan kesehatan. Psikologi kesehatan mempelajari dampak institusi kesehatan dan tenaga medis dan paramedis terhadap perilaku orang dan mengembangkan rekomendasi untuk meningkatakan perawatan kesehatan.

Memahami Psikologi Kesehatan : Tinjauan umum dan religi

Harapannya semua orang berada dalam kondisi sehat. Sehat (Arab "Al-shihah"), dalam Islam bukan hanya merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah fisik (jasmani), melainkan juga secara psikis (jiwa). Karena itulah Islam memperkenalkan konseps al-Shihhah wa al-afiyat (lazim diucapkan sehat wal'afiat). Maksud dari konsep itu yakni suatu kondisi sehat di mana seseorang mengalami kesehatan yang paripurna, jasmani, dan rohani atau fisik dan psikis.

Jika ada individu yang sehat, tentu ada pula individu yang sakit. Di hadapan Allah, orang sakit bukanlah orang yang hina. Mereka justru memiliki kedudukan yang sangat mulia.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa derita dari penyakit atau perkara lain kecuali Allah hapuskan dengannya (dari sakit tersebut) kejelekan-kejelekannya (dosa-dosanya) sebagaimana pohon menggugurkan daunnya."
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Psikologi kesehatan juga mencoba memahami keterkaitan antara kondisi sehat dan sakit, tidak hanya secara fisik tapi juga secara psikis. Dengan menjaga kesehatan dan kesucian jiwa kita, Insya Allah dapat membantu meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik kita.

What makes a healthy person stay healthy?
What happens when a healthy person is then diagnosed with chronic illness?
What emotional setbacks occur to people with chronic illness?

Ketiga perilaku diatas dipelajari dalam psikologi kesehatan.

Psikologi kesehatan bertujuan untuk memahami dinamika psikologis individu yang tetap menjaga kesehatannya, dinamika psikologis individu yang sehat namun kemudian mendapat diagnosa penyakit kronis serta dinamika psikologis individu saat merespon keadaan sakit kronis yang sedang dialami.

Kita pasti pernah bertemu dengan orang yang tampak selalu sehat dan jarang sakit. Terbersit dalam benak kita, apa yang dilakukan orang tersebut sehingga kesehatannya terjaga? How does he or she maintain his or her health? Dinamika psikologis apa yang tercermin pada individu yang berhasil menjaga kesehatannya?

Kita pernah pula berjumpa dengan orang yang sehat, namun setelah orang tersebut mendapat diagnosa penyakit tertentu, muncul banyak perubahan pada dirinya. Perubahan fisik dan juga perubahan emosional. Orang tersebut menjadi lebih sensitif perasaannya-lebih emosional, menjadi kurang semangat dalam berkarya-malas, bahkan mungkin memperlihatkan perubahan perilaku yang sangat berbeda dalam kesehariannya. Dinamika psikologis apa yang terlihat pada individu yang demikian?

Kita mungkin juga pernah bertemu dengan orang yang tengah berjuang dalam menghadapi penyakit kronis yang dideritanya. Kita seolah dapat membaca cerminan jiwanya, antara yakin dan tidak yakin bahwa dirinya bisa terbebas dari penyakit yang dideritanya. Terkadang kita melihat orang itu tampak bersemangat dan akan melakukan apapun demi kesembuhannya, namun di saat lain kita meyaksikan orang tersebut berada pada puncak keputusasaannya. Sehingga apapun yang kita katakan atau kita lakukan seolah tidak terlalu bermakna bagi dirinya. Dinamika psikologis apa yang ada pada individu yang demikian?

Dinamika psikologis individu yang sehat ?

Individu ini menyadari bahwa kesehatan adalah sesuatu yang teramat penting. Bentuk kesadaran ini tercermin dalam perilaku sehat (health behaviour). Perilaku sehat adalah perilaku seseorang dalam mempertahankan status kesehatannya. Olah raga teratur dan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi adalah contoh perilaku sehat.

Individu selalu belajar (learn) dari kisah kesehatan orang lain. Proses ini adalah bagian dari dinamika psikologis orang yang sehat. Karena ia mendapatkan pemahaman (insight) bagaimana menjaga kesehatannya dan bagaimana terhindar dari penyakit yang dialami oleh orang lain. Sehingga jika ada keinginan untuk melakukan perilaku yang tidak sehat (poor health behavior) - misal merokok - akan selalu ada yang inform otaknya untuk tidak meneruskan keinginan berperilaku tidak sehat.

Dinamika psikologis individu yang sehat kemudian sakit ?

Individu yang sehat dapat melakukan banyak aktivitas secara mandiri. Ketika kemudian ia terdiagnosa dengan penyakit kronis tertentu akan muncul ketakutan dan kecemasan atas eksistensi dan performansinya. Kecemasan ini merupakan masalah tersendiri, bukan karena mendatangkan stres bagi individu namun mempengaruhi kemampuan individu dalam menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari. Ketika suatu penyakit terjadi pada seseorang, seluruh aspek kehidupannya akan terpengaruh. Dinamika psikologis dan emosional yang muncul seringkali berupa pertanyaan seperti "siapa yang akan merawat mereka ketika mereka telah sembuh? Jika pada akhirnya mereka tidak dapat bekerja lagi, bagaimana mereka dapat membayar/menangani masalah keuangan? Jika selama ini individu tersebut merasa mampu melakukan semua hal sendiri secara mandiri, dapatkah mereka kemudian menerima keadaan baru mereka (jadi tergantung pada orang lain). Bagaimana jika individu ini tidak dapat lagi melakukan hobi lama?

Dinamika psikologis individu yang sedang menderita penyakit kronis?

Ada beberapa respon emosional yang muncul pada pasien atas penyakit kronis yang dideritanya.

1. Penolakan (Denial)

Merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita penyakit kronis seperti jantung, stroke dan kanker. Atas penyakit yang dideritanya ini, pasien akan memperlihatkan sikap seolah-olah penyakit yang diderita tidak terlalu berat (menolak untuk mengakui bahwa penyakit yang diderita sebenarnya berat) dan menyakini bahwa penyakit kronis ini akan segera sembuh dan hanya akan memberi efek jangka pendek (menolak untuk mengakui bahwa penyakit kronis ini belum tentu dapat disembuhkan secara total dan menolak untuk mengakui bahwa ada efek jangka panjang atas penyakit ini, misalnya perubahan body image).

2. Cemas

Setelah muncul diagnosa penyakit kronis, reaksi kecemasan merupakan sesuatu yang umum terjadi. Beberapa pasien merasa terkejut atas reaksi dan perubahan yang terjadi pada dirinya bahkan membayangkan kematian yang akan terjadi padanya. Bagi individu yang telah menjalani operasi jantung, rasa nyeri yang muncul di daerah dada, akan memberikan reaksi emosional tersendiri. Perubahan fisik yang terjadi dengan cepat akan memicu reaksi cemas pada individu dengan penyakit kanker.

3. Depresi

Depresi juga merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita penyakit kronis. Kurang lebih sepertiga dari individu penderita stroke, kanker dan penyakit jantung mengalami depresi.

Untuk dapat memahami respon yang terjadi atas perubahan yang ada pada penderita penyakit kronis, perlu pemahaman yang mendalam tentang diri individu (self) itu sendiri. Self merupakan salah satu konsep utama dalam ilmu psikologi. Para psikolog mengacu pada self concept sebagai keyakinan atas kualitas dan penilaian yang dimiliki seseorang.

Penyakit kronis dapat menghasilkan perubahan yang drastis pada self concept dan self esteem. Beberapa perubahan yang ada bisa bersifat sementara, walaupun ada juga yang bersifat permanen. Self concept itu sendiri merupakan bagian dari self evaluation termasuk didalamnya beberapa aspek seperti body image, prestasi, fungsi sosial dan the private self.

1. The Physical Self

Body image merupakan penilaian dan evaluasi atas fungsi dan penampilan fisik seseorang. Body image yang rendah berhubungan dengan harga diri yang rendah diikuti dengan terjadinya peningkatan depresi serta kecemasan.

2. The Achieving Self

Jika keadaan penyakit kronis menjauhkan individu dari aktivitas ini, konsep diri individu yang bersangkutan bisa terkoyak dan rusak. Namun jika pekerjaan dan hobi sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan sakit dan sebagainya, individu dapat memperoleh kepuasan tersendiri dan meningkatkan harga dirinya.

3. The Social Self

Sebagaimana yang telah diketahui bersama, menciptakan kembali kehidupan sosial pasien penderita penyakit kronis merupakan aspek yang penting. Bentuk sumber daya sosial yang dapat membantu individu yang menderita penyakit kronis misalnya dengan pemberian informasi, bantuan dan dukungan emosional. Partisipasi keluarga dalam proses rehabilitasi merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan. Memberikan informasi pada anggota keluarga lain (bahkan anak-anak) yang akurat dan cukup mengenai keadaan individu yangs akit (misalnya gangguan/penyakit yang dialaminya, proses/treatment yang akan dijalaninya bahka perubahan emosional yang terlihat) merupakan sesuatu yang penting untuk dilaksanakan agar terhindar dari kebingungan dan kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara individu yang sakit dengan pihak keluarga.

Dengan demikian, setiap individu memiliki dinamika psikologisnya tersendiri bilamana dikaitkan dengan status kesehatannya. Antara individu yang sehat, individu yang sehat kemudian sakit dan individu yang telah terkena penyakit kronis memiliki dinamika psikologis dan emosional yang harus dipahami. Psikologi kesehatan mencoba memahami aspek kejiwaan (psikologis dan emosional) individu yang berada pada salah satu situasi diatas (terlebih pada individu yang sakit).

Psikologi kesehatan ternyata dapat ditinjau dari sudut pandang religi.
Di dalam banyak ayat dalam Alquran, Allah mengisyaratkan betapa pentingnya kita memelihara kebersihan hati dan jiwa itu.

"Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk hatinya" (Q.S Al-Tagabun 64:11).

Dari lubuk hati yang bersih serta akal yang sehat, seseorang akan memperoleh kesehatan yang sempurna. Bukankah banyak orang yang mengalami gangguan kesehatan disebabkan oleh faktor tidak sehatnya kedua hal tersebut?

Selain itu individu seringkali mudah terkena penyakit karena ketidakmampuannya memelihara keteraturan hidup. Tidak memiliki disiplin diri terhadap makan, tidur, istirahat, bekerja dan berolahraga. Serta kecenderungan untuk memeriksakan kesehatannya pada waktu sakit.

Padahal Islam menerapkan suatu perinsip al-wiqayat khayr mi al-ilaj (pencegahan lebih baik dari mengobati). Kiranya dapat kita pahami bahwa secara umum Allah SWT telah menyatakan bahwa semua penyakit ada obatnya.

Seperti tersurat melalui pernyataan Nabi Ibrahim as. bahwa,
"Apabila aku (Ibrahim as) sakit, Dialah yang menyembuhkan aku"
(Alquran surah As-Syu'ara ayat 80).

Orang yang selalu tawakal, berpikiran positif, dan selalu menjaga kesucian hatinya, Insya Allah pikirannya akan tenang, aliran darahnya lancar, dan jantungnya berdetak dengan normal. Jadi jelas bahwa kesehatan jiwalah yang bisa berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Dengan menjaga kesehatan dan kesucian jiwa kita, Insya Allah dapat membantu meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik kita.

Selasa, 02 Februari 2010

psikologi perkembangan remaja

Dunia psikologi sangatlah luas dan menarik untuk di kaji dan kembangkan, melihat dari sisi psikologi perkembangan remaja, terlintar pada pikiran kita tentang kenangan indah pada saat kita masih menjalaninya. Mulai dari kenakalan kita, cinta monyet waktu smu dll.dengan dasar itulah kali ini Johan Abdillah sengaja membahas tentang psikologi perkembangan remaja. Semoga bermaanfaat.

Psikologi perkembangan remaja dapat di pisahkan dengan pengkategorian melalui kesulitan kesulitan yang sering dialami oleh remaja,tuntutan psikologi untuk remaja serta periode pada saat kita remaja. Penjabarannya sebagai berikut :

1. sejumlah kesulitan yang dialami kaum remaja merupakan bagian yang normal dari perkembangan ini. Beberapa kesulitan atau bahaya yang mungkin dialami kaum remaja, antara lain :
  • Variasi kondisi kejiwaan, suatu saat mungkin ia terlihat pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri tetapi pada saat yang lain ia terlihat sebaliknya periang dan berseri-seri dan yakin.
  • Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba, hal ini normal dan sehat.
  • Membolos
  • Perilaku anti social, seperti suka menganggu, berbohong, kejam, dan agresif
  • Penyalahgunaan obat bius
  • Psikosis

2. Tuntutan psikologis masa remaja
  • Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkanya secara efektif
  • Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang lain
  • Remaja mampu bergaul lebih matang dengann kedua jenis kelamin
  • Mengetahu dan menerima kemampuan diri sendiri
  • Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
3. Periodisasi perkembangan masa remaja
Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam dua periode yaitu :
1. Periode masa puber usia 12-18 tahun
a) Masa pra pubertas = peralihan dari masa kanak-kanak kemasa awal pubertas.

Cirinya :
  • Anak mulai bersikap kritis
  • Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
2. Masa pubertas usia 14-16 tahun = masa remaja awal

Cirinya :
  • Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
  • Memperhatikan penampilan
  • Sikapnya tidak menentu/plin plan
  • Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
  • Mulai adanya mimpi basah

3. Masa akhir pubertas usia 17-18 tahun + peralihan dari masa pubertas kemasa adolesen.

Cirinya :
  • Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
  • Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
4. Periode remaja adolesen usia 19-21 tahun (Merupakan masa akhir remaja)
Beberapa sifat penting pada masa ini adalah :
  • Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
  • Mulai menyadari akan realita
  • Sikapnya mulai jelas tentang hidup
  • Mulai nampak bakat dan minatnya

Dengan kondisi tersebut, dapat disimpulakan bahwa masa remaja merupakan masa dimana seseorang atau manusia dalam proses menuju pencarian jati diri di masa awal kehidupan yang sebenarnya pada dirinya serta Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam pembentukan jati diri seseorang, oleh karenanya psikologi perkembangan remaja dapat dikatakan faktor yang sangat berperan di dalamnya.